Setiap Orang menjadi Guru, Setiap Rumah menjadi Sekolah

Zaman modern ini terdapat banyak polemik mengenai pendidikan nasional. Salah satu aspek yang kerap dikambing hitamkan adalah masalah sistem pendidikan nasional. Namun sebelum jauh-jauh membahas sistem pendidikan yang canggih atau berbiacara tentang kurikulum luar negeri, menurut saya kesadaran akan peran-peran kita terhadap pendidikan nasional tidak kalah penting. Karena menurut saya, bangsa yang mendikotomikan peran mendidik generasi penerusnya hanya pada sebuah lembaga sekolah merupakan bangsa yang sedang menggali kuburannya sendiri. Tapi ternyata, hampir 100 tahun yang lalu telah ditelurkan sebuah gagasan bahwa aku, kamu, dan kita memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik generasi bangsa. Gagasan tersebut yang kelak kita kenal dengan Tri Pusat Pendidikan yang dilakonkan pada Taman Siswa beserta gagasan-gagasan revolusioner lainnya.

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang Tri Pusat Pendidikan, perlu kita dalami bersama keresahan yang melatar belakangi priayi jawa yang kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara ketika menelurkan gagasan tersebut. Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat pada 2 Mei 1889. Beliau lahir dari keluarga kerabat istana dan tergolong ningrat. Namun status darah biru yang beliau punya tersebut tidak memisahkannya dari golongan rakyat jelata. Bahkan, pertemanannya dengan seorang rakyat jelata ini lah yang menjadi motivasi awal Ki Hajar dalam bergerak di bidang pendidikan. Bahwa dirinya yang beruntung untuk mendapatkan pendidikan merasa prihatin dengan nasib jutaan rakyatnya sendiri yang tidak dapat mengecam pendidikan. Maka cita-cita yang terbesit saat itu adalah Ki Hajar ingin menjadi guru kelak. Kepekaannya terhadap pendidikan semakin terasah ketika beliau diasingkan selama 6 tahun di Belanda, di sana beliau mempelajari berbagai macam sitem pendidikan barat. Uniknya, semakin lama beliau mempelejari sistem pendidikan barat maka semakin yakinlah beliau bahwa sistem pendidikan barat tidak dapat dipakai di tanah airnya.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan berada pada tahun-tahun kolonialisme oleh Belanda. Pada masa kolonialisme itu, sekolah-sekolah banyak didirikan di seantero bangsa namun berdasarkan kepentingan Belanda dan politik Etis. Sekolah Belanda didirikan untuk memuaskan bangsa Indonesia supaya seakan-akan Belanda peduli dengan nasib pendidikan rakyat Indonesia. Nyatanya, sekolah tersebut bertujuan untuk mencetak calon-calon buruh pabrik yang bekualitas. Kurikulum dan sistem pendidikan barat diterapkan di sekolah-sekolah yang tidak sesuai dengan kodrat alam anak-anak Indonesia. Murid-murid dikekang untuk berekspresi, dihukum bila melanggar peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Belanda. Dibuat patuh dan tidak banyak bertanya supaya kelak menjadi pekerja yang baik untuk Belanda. Menurut Ki Hajar, sistem sekolah ini malah jauh dari ruh pendidikan itu sendiri.

“Pendidikan dalam pandanganku adalah ikhtiar untuk mengajar manusia menjadi pribadi yuang mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain, baik secara lahir maupun batin.”- Ki Hajar Dewantara.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara cukup luas dan merupakan sebuah sistem integralistik yang diterapkan pada Tamansiswa. Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar ini adalah bagaimana pendidikan dapat memerdekakan dan memandirikan rakyat Indonesia dengan pengajaran dan pendidikan akhlak, budi pekerti, dan pengetahuan yang sesuai dengan kodratnya sebagai rakyat Indonesia. Selain itu terdaoat sebuah filosofi yang cukup terkenal yaitu Tri Pusat Pendidikan. Tri Pusat Pendidikan ini merupakan sebuah sistem pendidikan yang melibatkan alam keluarga, alam perguruan, dan alam masyarakat untuk membentuk manusia-manusia unggul, berbudi, dan cerdas secara lahir dan batin.

Pertama alam keluarga, yang harus dikenalkan kepada anak-anak sebelum alam perguruan dan alam masyarakat. Sebab keluarga adalah alam pertama yang harus disiapkan untuk mendidik dan menyiapkan generasi masa depan yang cerdas secara lahir dan batin. Hanya dengan cara seperti itulah anak akan tumbuh berkembanga menjadi pribadi yang kuat jiwa dan raganya. Pada alam ini terdapat penekanan hubungan harmonis antara orangtua dan anak. Selanjutnya adalah alam perguruan atau sekolah. Alam ini merupakan lembaga pendidikan resmi yang sangat penting, karena melalui alam perguruan itulah seorang peserta didik akan diberi bermacam-macam ilmu pengetahuan. Setelah anak-anak mendapatkan banyak materi pelajaran di alam perguruan, maka langkah selanjutnya adalah mengajak anak-anak itu untuk mempraktikkan ilmu yang telah didapat di alam keluarga dan alam perguruan ke dalam alam masyarakat. Masyarakat dalam konteks pendidikan dimaknai sebagai sebuah lingkungan luas yang letaknya berada di luar lingkungan keluarga sekolah.

Dari filosofi Ki Hajar tersebut, terdapat sebuah penekanan bahwa pendidikan merupakan sebuah sistem yang membagikan peran yang sama pada semua orang. Bahwa sistem pendidikan nasional merupakan sebuah usaha gotong royong bagi semua rakyat Indonesia. Hal ini yang masih kurang pada sistem sekolah saat ini yaitu terdapat seakan-akan satu-satunya peran mendidik generasi bangsa ada pada institusi pendidikan. Tidak jarang kita temui orangtua menitipkan anaknya pada sekolah yang tidak ia ketahui apa yang anaknya pelajari di dalamnya. Dan banyak sistem sekolah yang gagal menitipkan ilmu dan menyediakan kesempatan bagi anak muridnya untuk belajar dan menerapkan ilmunya pada masyarakat.

Yang perlu kita sadari bahwa agenda pendidikan nasional ini merupakan agenda kita juga. Peran mencerdaskan kehidupan bangsa ini merupakan peran kita juga. Bahwa anak-anak tak terdidik, kaum buta aksara, dan rakyat kita yang terjebak dalam lingkaran kebodohan merupakan tanggung jawab kita bersama. Maka jadi apapun aku, kamu, dan kita jadilah guru, jadilah pendidik, jadilah orangtua, kakak, dan pengasuh yang mendidik, membagikan, mengajarkan, dan menemani saudara-saudara kita. Bahwa kewajiban setiap orang terdidik adalah mendidik. Maka, jadi terang!