Berawal dari kondisi semakin meningkat dan banyaknya animo masyarakat, terutama yang berasal dari luar daerah Desa Brabo yang memberikan kepercayaan untuk memasukkan putra-putrinya ke dalam lembaga pendidikan yang bernaung di bawah yayasan Tajul Ulum, yakni Madrasah Aliyah Banat Tajul Ulum Brabo, dimana secara statistik MA Tajul Ulum dari tahun ke tahun di lembaga ini peserta didik yang ada mencapai 1000, baik putra maupun putri. Kondisi tersebut secara langsung akan membawa potensi terjadinya hubungan di luar batas dan melangggar ketentuan– ketentuan syari’at islam diantara peserta didik putra maupun peserta didik putri. Oleh sebab itu sangat diperlukan pemisahan lokasi antara anak putra dan putri dalam rangka mengantasipasi hal-hal tersebut. Disamping itu, jika dilihat dari aspek manajemen pengelolaan, melihat jumlah peserta didik yang demikian besar, tentunya jika dipimpin oleh satu orang kepala madrasah tidak akan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Kemudian ditambah dengan bermunculan pula rintisan sekolah-sekolah kejuruan baru dengan berbagai jurusan di berbagai daerah yang merupakan efek dari naungan pemerintah yang cenderung gencar menggalakkan pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang notabene sekolah kejuruan tersebut bukan berbasis agama, sehingga untuk mengimbangi hal tersebut, mereka memandang perlu dirintis pula sebuah lembaga pendidikan tingkat atas yang berbasis agama yaitu Madrasah Aliyah. Dengan alasan mendasar sungguh sangat disayangkan bila generasi muda terutama perempuan terbelakang dalam pendidikan terutama pendidikan Agama.

 Akhirnya, disepakatilah pendirian sebuah Lembaga Pendidikan Madrasah Aliyah yang bernama Madrasah Aliyah Banat Tajul Ulum berlokasi di Desa Brabo Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *